TRADISI KEMBUL SEWU SEDULUR

Warga mengamati pertemuan sungai di Pendowoharjo, Girimulyo, Kulonprogo, Yogyakarta.
Warga menuju lokasi acara Kembul Sedulur Sewu di Pendowoharjo, Girimulyo, Kulonprogo, Yogyakarta.
Lauk pauk dan hasil bumi sebagai ungkapan syukur.
Warga memanjatkan doa syukur di Pendowoharjo, Girimulyo, Kulonprogo, Yogyakarta.
Warga bersiap melangsungkan acara Kembul Sewu Sedulur di Pendowoharjo, Girimulyo, Kulonprogo, Yogyakarta.
Uang sebagai simbol syukur.
Penari Kuda Lumping mengikuti prosesi di Pendowoharjo, Girimulyo, Kulonprogo, Yogyakarta.
Warga makan bersama di Pendowoharjo, Girimulyo, Kulonprogo, Yogyakarta.
Warga memberi sesaji pada topeng yang biasa digunakan untuk menari Kuda Lumping di Pendowoharjo, Girimulyo, Kulonprogo, Yogyakarta.
Penari melakukan ritual pencucian Kuda Lumping di Pendowoharjo, Girimulyo, Kulonprogo, Yogyakarta.
Ada berbagai cara dilakukan oleh manusia sebagai perwujudan syukur terhadap Tuhan atas berkah dan keselamatan. Salah satunya adalah dengan menggelar tradisi Kembul Sewu Sedulur. Seperti yang dilakukan oleh masyarakat di Pendowoharjo, Girimulyo, Kulonprogo, Yogyakarta.

Berlokasi di pertemuan antara Sungai Ngiwa dan Sungai Gunturan, ritual budaya ini dihelat setiap hari Rabu pada pekan terakhir bulan Sapar-penanggalan Jawa.

Baca SemuaPemilihan lokasi ini bukan tanpa pertimbangan. Sebab, konon Bendung Kayangan ini merupakan bendungan yang dibangun oleh Mbah Bei Kayangan. Seorang pengikut Prabu Brawijaya yang melarikan diri dari Majapahit dan di tempat tersebut membangun pemukiman serta Bendung Kayangan.

Tradisi Kembul Sewu Sedulur atau makan bersama seribu saudara adalah salah satu media yang mempererat tali silaturahmi antar warga. Prosesi dimulai dengan kirab bersama menuju ke lokasi bendungan.

Sejumlah perempuan membawa nasi, lauk pauk dan hasil bumi yang akan digunakan untuk makan bersama. Ada juga kirab dari kelompok kesenian, pembawa sesaji dan kenduri hingga masyarakat umum.

Alunan musik gamelan menjadi penanda dimulainya ritual ngguyang jaran atau memandikan kuda yang menggambarkan aktivitas Mbah Bei Kayangan semasa menjadi pawang kuda Prabu Wijaya.

Selanjutnya tokoh yang dituakan di kawasan itu memimpin doa syukur dan permohonan keselamatan. Setelah doa, warga saling berbagi makanan serta lauk pauk yang berbeda dalam suasana kebersamaan.

Foto dan Teks: Andreas Fitri Atmoko

Ringkas
Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use