REHAT SEHARI UNTUK ALAM

Fikri Yusuf

Sehari dalam setahun, Bali memberi kesempatan alam untuk menyegarkan diri dan tanpa "gangguan" aktivitas manusia lewat pelaksanaan Hari Raya Nyepi. Sesuai namanya Nyepi yang berarti membuat sepi. Yang ada hanya keheningan selama 24 jam.

Hewan-hewan bebas berkeliaran di alam dan jalanan sepi dari lalu lintas, suara angin dan debur ombak terdengar jelas dari kejauhan, udara yang begitu segar tanpa polusi. Bahkan di malam hari langit bertabur jutaan bintang tanpa polusi cahaya.

Hari Nyepi merupakan perayaan pergantian Tahun Saka bagi umat Hindu di Bali dengan menjalankan empat pantangan yang disebut Catur Brata Penyepian yaitu tidak menggunakan api (Amati Geni), tidak bepergian (Amati Lelungan), tidak menikmati hiburan (Amati Lelanguan) dan tidak bekerja (Amati Karya) yang bertujuan untuk menyucikan kembali alam semesta yang terdiri dari Bhuana Alit (diri manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta / lingkungan). Tahun 2023, umat Hindu di Bali merayakan pergantian dari tahun Saka 1944 ke tahun baru Saka 1945.

Pecalang atau petugas pengamanan adat Bali memantau situasi saat Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1945 di kawasan Desa Adat Tuban, Badung

Foto perbandingan suasana jalanan yang ramai dengan jalanan sepi saat Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1945 di kawasan Desa Adat Tuban, Badung.

Semua itu dilakukan mengacu pada konsep tiga keseimbangan atau keharmonisan dalam hidup manusia yang disebut Tri Hita Karana yaitu keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia lainnya dan manusia dengan alam.

Dalam hal ini umat Hindu meyakini bahwa manusia perlu memberi kesempatan kepada alam untuk mengembalikan keharmonisannya meskipun hanya sehari dalam setahun.

Untuk mewujudkannya tentu tidak bisa dilakukan oleh yang beragama Hindu saja, sehingga seluruh orang yang berada di Pulau Dewata juga berperan dalam menciptakan suasana sepi terutama dengan tidak bepergian ke luar tempat tinggal, tidak membuat bising dan tidak menyalakan api atau lampu.

Seekor burung berjalan di jalanan yang lengang saat Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1945 di kawasan Desa Adat Tuban, Badung.

Seekor burung terbang di atas perahu yang terparkir di perairan dengan latar belakang Patung Garuda Wisnu Kencana saat Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1945 di kawasan Desa Adat Tuban, Badung.

Dari sisi penggunaan energi listrik saat Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1945, PT PLN (Persero) memperkirakan terjadi penurunan beban puncak di Pulau Dewata menjadi 578 MW yaitu turun dari kondisi normal sekitar 980 MW.

Selain itu, pada pelaksanaan Hari Raya Nyepi beberapa tahun lalu, peneliti dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga telah melakukan sejumlah penelitian tentang kondisi cuaca dan kualitas udara.

Seperti yang dirilis di laman www.bmkg.go.id, Nyepi yang hanya terjadi di sebuah pulau di Indonesia dan satu-satunya di dunia tersebut menjadi momentum penelitian yang ditargetkan dapat memberikan pembuktian ilmiah bahwa aktivitas manusia berkontribusi dalam perbedaan kualitas udara ambien pada saat hari bebas polusi, bebas suara bising, dan bebas energi selama 24 jam.

Pecalang atau petugas pengamanan adat Bali memantau situasi saat Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1945 di kawasan Jalan Tol Bali Mandara, Badung.

Suasana lengang di loket lapor diri Terminal Keberangkatan Domestik Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai saat Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1945.

Hal itu juga sebagai penguatan upaya Indonesia dalam mitigasi perubahan iklim berupa aksi nyata dalam mereduksi emisi gas rumah kaca dan partikel pencemar udara.

Pecalang atau petugas pengamanan adat Bali memantau situasi saat Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1945 di kawasan Desa Adat Tuban, Badung.

Pecalang atau petugas pengamanan adat Bali memantau situasi saat Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1945 di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Suasana lengang di Terminal Keberangkatan Domestik Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai saat Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1945.

Pecalang atau petugas pengamanan adat Bali memantau situasi saat Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1945 di kawasan Underpass Ngurah Rai, Badung.

Pemandangan gugusan bintang Bima Sakti atau Milky Way saat malam Hari Raya Nyepi tahun Saka 1945 terlihat dari Badung, Bali.

Foto dan Teks: Fikri Yusuf

Editor : Nyoman Budhiana

Lisensi

Pilih lisensi yang sesuai kebutuhan
Rp 3.000.000
Reguler
Editorial dan Online, 1024 px, 1 domain
Rp 7.500.000
Pameran dan Penerbitan
Pameran foto, Penerbitan dan Penggunaan Pribadi