Ketika kuda menari, warisan tradisi Sunda terus lestari

Raisan Al Farisi

Di Kabupaten Sumedang, kesenian Kuda Renggong telah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat Sunda, khususnya dalam arak-arakan khitanan. Istilah “renggong” berasal dari kata ronggeng, yang berarti menari, merujuk pada gera­kan kuda yang dilatih mengikuti irama musik tradisional. Kesenian ini tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga simbol perayaan, kebanggaan, dan identitas budaya yang diwariskan lintas generasi.

 

Salah satu kelompok yang masih mempertahankan tradisi tersebut adalah Harisbaya. Kelompok kesenian ini didirikan Awan Irawan pada 1970. Kelompok ini menjadi bagian dari generasi pelaku seni yang terus menjaga keberlangsungan Kuda Renggong di tengah perubahan zaman. Bagi Awan Irawan, kesenian ini bukan hanya pekerjaan pertunjukan, tetapi juga warisan budaya yang terus dirawat melalui latihan rutin, perawatan kuda serta regenerasi pemain dan pawang.

Anak yang telah dikhitan bersiap untuk menaiki Kuda Renggong.

Potret pemilik Padepokan Harisbaya Grup Gugun Guntara bersama kuda miliknya.

 

Di balik pertunjukan yang meriah, terdapat proses panjang yang jarang terlihat publik. Di Padepokan Harisbaya, persiapan dimulai sejak siang hari. Para anggota kelompok menyiapkan perlengkapan pertunjukan, membersihkan serta menghias kuda. Aktivitas berlangsung perlahan namun intens, memperlihatkan bagaimana sebuah pertunjukan rakyat dibangun melalui kerja kolektif banyak orang.

 

Seorang pawang kuda berselimut sarung sebelum menampilkan Kuda Renggong.

Pekerja memandikan kuda di Padepokan Harisbaya Grup.

Menjelang malam, suasana padepokan berubah semakin sibuk. Perjalanan menuju Cikajang menjadi salah satu bagian dari rutinitas panjang yang harus dijalani kelompok Harisbaya. Sekitar pukul 00.00 WIB, rombongan berangkat menggunakan kendaraan bak terbuka dan truk pengangkut perlengkapan. Perjalanan selama berjam-jam ditempuh menembus dinginnya malam hingga tiba di lokasi sekitar pukul 04.00 pagi.

 

Meski waktu istirahat terbatas, aktivitas kembali dimulai sejak matahari terbit. Para pemain musik mempersiapkan kendang, gong, terompet, dan pengeras suara yang menjadi elemen penting dalam pertunjukan. Irama musik tradisional menjadi penanda utama dalam Kuda Renggong, mengatur ritme langkah kuda sekaligus membangun suasana arak-arakan yang meriah. Di tengah keramaian, para pemain musik terus menjaga tempo pertunjukan di bawah terik matahari dan padatnya penonton.

Pawang beserta pemain pengiring musik berada di atas truk saat berangkat untuk tampil di Cikajang, Garut.

Pelana kuda tersimpan di salah satu sudut ruangan Padepokan Harisbaya Grup.

 

Kuda-kuda berhias warna-warni berjalan mengikuti tabuhan musik sambil mengangkut anak yang sedang dikhitan. Ratusan pasang mata mengelilingi jalannya arak-arakan. Penonton berdesakan di sisi jalan, sebagian mengabadikan momen dengan telepon genggam, sementara yang lain ikut berjoget mengikuti irama musik.

 

Pemain musik bersiap untuk mengiringi perhelatan Kuda Renggong.

Foto udara suasana saat pawang kuda membawa anak-anak berkeliling desa.

Salah satu bagian yang paling dinantikan dalam pertunjukan adalah tradisi saweran. Penonton maju mendekati rombongan untuk memberikan uang secara langsung kepada pemain musik maupun penunggang kuda. Saweran menjadi bentuk apresiasi sekaligus sumber tambahan penghasilan bagi kelompok kesenian. Di tengah pertunjukan, tangan-tangan penonton silih berganti menyelipkan uang di antara dentuman kendang dan langkah kuda yang terus bergerak.

 

Di akhir pertunjukan, atraksi kuda silat menjadi penampilan penutup yang paling menyita perhatian. Dalam atraksi ini, dengan panduan sang pawang, kuda memperlihatkan gerakan agresif menyerupai teknik bela diri. Sorak penonton semakin ramai ketika kuda berdiri, menghentakkan kaki, dan bergerak mengikuti irama musik yang berirama semakin cepat. Kuda silat menjadi puncak pertunjukan sekaligus penutup dari rangkaian panjang arak-arakan Kuda Renggong.

Pawang kuda membawa anak-anak berkeliling desa.

Seorang anak menari di atas kuda saat atraksi kuda silat.

 

Di tengah perubahan zaman dan bergesernya bentuk hiburan masyarakat, kelompok seperti Harisbaya terus mempertahankan tradisi dengan segala keterbatasannya. Perjalanan panjang, waktu istirahat yang singkat, hingga ketergantungan pada saweran penonton menjadi bagian dari realitas yang mereka jalani demi menjaga kesenian Kuda Renggong tetap hidup di tengah masyarakat.

 

Pawang kuda melakukan atraksi kuda silat.

Warga memotret penampilan kesenian Kuda Renggong.

Pekerja membawa pelana dan aksesori kesenian Kuda Renggong.

Foto dan teks: Raisan Al Farisi

Editor: Ismar Patrizki

Lisensi

Pilih lisensi yang sesuai kebutuhan
Rp 1.500.000
Reguler
Editorial dan Online, 1024 px, 1 domain
Rp 5.000.000
Pameran dan Penerbitan
Pameran foto, Penerbitan dan Penggunaan Pribadi