Srikandi owa dari Lengkong

Rakha Raditya Yahya

"Wuk wuk wuk wuk wuk," terdengar bersautan setiap pagi di Desa Lengkong, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Suara tersebut semakin nyaring menjadi penanda bahwa sekelompok primate endemik Jawa Barat dan Jawa Tengah, owa jawa, semakin mendekat di desa berpenduduk sekitar 6.000 jiwa itu.

Dari salah satu rumah yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan, Tini Kasmawati (54) mulai bergegas setelah mendengar suara-suara dari owa jawa. Sambil memegang tongkatnya dan menggendong tas berisi pisang, wanita tunanetra itu berjalan menyusuri jalan setapak menuju titik batas perkampungan dan hutan.  

"Wuk wuk wuk, Abah, Emak, Arashi, Gaza, Sayonara" teriak Tini usai  sampai di lokasi. Tak lama ia langsung menaruh sejumlah pisang ketika merasakan keberadaan mereka di sekitarnya.

Tini Kasmawati, seorang wanita asal Desa Lengkong, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian primata owa jawa.

Salah satu owa jawa di Desa Lengkong, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Dari kejauhan kelompok owa jawa ini mulai mendekat. Secara bergantian, owa jawa mulai mengambil dan memakan pisang-pisang yang sudah diletakkan di atas asbes yang menutupi tumpukan kayu bakar itu.

Begitulah aktivitas yang Tini lakukan dalam dua atau tiga kali sepekan. Bahkan, dahulu aktivitas memberikan makanan kepada owa jawa ini bisa ia lakukan setiap hari.

Bukan tanpa alasan, rutinitas ini Tini lakukan. Kecintaannya kepada owa jawa yang populasinya terus terancam membuat Tini untuk terus berbuat sesuatu meski dengan keterbatasan penglihatannya dan ekonominya yang pas-pasan.

Suasana permukiman yang bersebelahan dengan hutan di Desa Lengkong, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Tini Kasmawati bersiap berangkat untuk memberikan pisang-pisang kepada owa jawa di Desa Lengkong, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Menurut catatan Kementerian Kehutanan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) pada 2022, keberadaan owa jawa di wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah hanya diperkirakan berjumlah 4.000 ekor. Bahkan, lembaga International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan status owa jawa ke dalam kategori terancam punah sejak tahun 1989.

Seperti di kawasan-kawasan lain di Jawa Barat maupun Jawa Tengah, keberadaan owa jawa di Lengkong sendiri  terancam di kawasan itu disebabkan oleh aktivitas pembukaan lahan hutan, perburuan, hingga sengatan kabel listrik. 

“Dulu sekitar tahun 1980-an kawasan Lengkong ini ada banyak sekali owa jawa yang tinggal, hampir setiap pagi suaranya pasti terdengar dari berbagai sumber,” kata Tini. 

Tini Kasmawati mempersiapkan pisang-pisang untuk owa jawa di Desa Lengkong, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Tini Kasmawati memanggil owa jawa sebagai penanda pisang-pisang sudah siap diambil di Desa Lengkong, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Tapi sejak adanya pembalakan hutan liar besar-besaran pada awal 2000-an, kawanan tersebut menghilang dan hanya menyisakan beberapa kelompok.Permukiman yang semakin padat pun membuat kawanan owa jawa yang tersisa semakin berdekatan dengan manusia. 

Semakin beralihnya lahan habitat mereka, membuat sumber makanan mereka pun semakin berkurang. Hewan yang sebenarnya pemalu tersebut pun terkadang mendekat ke permukiman warga untuk mencari makanan. 

Situasi tersebut tidak hanya menimbulkan konflik antara owa jawa dan manusia, tetapi juga memiliki bahaya lain tersendiri. Tini juga mencatat sejak tahun 2013 sebanyak tujuh owa jawa di kawasan Lengkong mati tersengat listrikkarena memasuki permukiman warga.

Salah satu owa jawa bersama anaknya berayun di pepohonan di Desa Lengkong, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Salah satu owa jawa memgambil pisang yang diberikan Tini Kasmawati di Desa Lengkong, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Berangkat dari persoalan itulah, sejak 2014 Tini memilih cara dengan memberi makan owa jawa yang tersisa untuk mencegah mereka berkonflik dengan manusia di Kampung Lengkong. 

Tini sebenarnya sadar bahwa cara memberikan makanan kepada owa jawa itu bukan cara yang seharusnya dalam aksi konservasi. Namun dengan keterbatasan penglihatan yang ia miliki, cara itulah yang paling realistis untuk ia berikan sebagai wujud kecintaannya kepada para owa jawa di Lengkong ini.

Dari owa-owa yang ia beri makanan selama hamper 12 tahun, ada enam individu baru yang lahir. Bahkan, mereka sudah membentuk dua koloni baru.

Salah satu owa jawa memakan pisang yang diberikan Tini Kasmawati di Desa Lengkong, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Tini Kasmawati memberikan penjelasan kepada mahasiswi yang ingin mempelajari tentang owa jawa di Desa Lengkong, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Satu owa jawa yang terakhir lahir Tini beri nama Sayonara, satu kata dari Jepang yang berarti selamat tinggal. Nama tersebut merupakan bentuk simbolis Tini sebagai perjumpaan terakhir dalam mengasuh owa jawa di kampungnya ketika mereka sudah dapat hidup secara mandiri.

Dalam doa dan harapan yang terus ia panjatkan, agar owa jawa di Lengkong dapat terus bertambah, mandiri, dan bisa terhindar dari konflik dengan manusia.

 

Tini Kasmawati (tengah) berbincang dengan tetanganya di Desa Lengkong, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Tini Kasmawati membuka warung makanan di rumahnya di Desa Lengkong, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Tini Kasmawati berdoa usai shalat subuh di rumahnya di Desa Lengkong, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Salah satu pesan tentang pelestarian owa jawa terpaang di rumah Tini Kasmawati di Desa Lengkong, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Salah satu owa jawa bersama anaknya berayun di pepohonan di Desa Lengkong, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Teks dan Foto: Rakha Raditya Yahya

Editor: Puspa Perwitasari

Lisensi

Pilih lisensi yang sesuai kebutuhan
Rp 1.500.000
Reguler
Editorial dan Online, 1024 px, 1 domain
Rp 5.000.000
Pameran dan Penerbitan
Pameran foto, Penerbitan dan Penggunaan Pribadi