Musim kemarau kembali melanda Kalimantan Tengah, provinsi terluas di Indonesia dengan luas wilayah mencapai 15,3 juta hektare. Dari luasan tersebut, lebih dari 4,6 juta hektare di antaranya merupakan lahan gambut. Di tengah kondisi cuaca yang panas, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kerap terjadi. Apalagi, tahun ini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak fenomena El Nino berlangsung pada Agustus hingga September 2026.
Saat cuaca panas, karhutla lebih mudah terjadi. Kondisi tersebut diperparah dengan angin kencang yang dapat memicu api menjalar dan membesar. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBPK), hingga 22 Agustus 2026, luas area yang terbakar mencapai 4.729,25 hektare dari 1.686 peristiwa.
Ketika titik panas muncul dan tanda-tanda kepulan asap membumbung tinggi, petugas maupun relawan segera beranjak menuju lokasi untuk menghampiri titik api yang sedang berkobar. Dalam proses pemadaman karhutla, nyawa petugas dipertaruhkan untuk menghadapi berbagai kendala yang harus ditaklukkan.
Foto udara memperlihatkan asap membumbung tinggi dari kebakaran hutan dan lahan di Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah
Anggota satgas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melakukan rapat koordinasi dan penyusunan strategi sebelum terjun memadamkan karhutla di Posko Siaga Karhutla di kantor BPBD Palangka Raya, Kalimantan Tengah
Mereka harus melawan kobaran api yang meraung-raung di tengah kepulan asap, menebas semak belukar hingga membuka jalur menuju kepala api. Tak jarang, akibat terbatasnya sumber air untuk pemadaman, petugas terpaksa membuat sumur bor baru.
Pergulatan melawan karhutla tidak pernah berlangsung mudah. Petugas kerap menghadapi berbagai kendala di lapangan. Oleh sebab itu, penanganan karhutla membutuhkan tenaga yang besar, waktu, peralatan, strategi, hingga koordinasi yang tepat agar proses pemadaman dapat berlangsung secara efektif dan terkendali.
Tatkala kebakaran terjadi di lahan gambut, tantangan petugas semakin berat. Api tidak hanya membakar lahan di permukaan, tetapi juga merambat dan bertahan di lapisan gambut. Bara yang tersimpan di dalam tanah gambut sulit dideteksi dan dipadamkan sehingga api dapat kembali berkobar meskipun permukaan tanah tampak telah berhasil dipadamkan. Di lokasi tertentu, penyekatan dilakukan dengan menyemprotkan air ke semak belukar untuk mencegah dan membatasi pergerakan api agar tidak menjalar hingga meluas. Tak jarang mereka harus berjibaku melawan api hingga larut malam.
Sejumlah informasi dipaparkan di Posko Siaga Karhutla di kantor BPBD Palangka Raya, Kalimantan Tengah
Anggota TNI membawa selang saat memadamkan api yang membakar lahan gambut di Kelurahan Bukit Tunggal, Palangka Raya, Kalimantan Tengah
Sebagai upaya kesiapsiagaan menghadapi meningkatnya potensi karhutla, Kepala Pelaksana BPBPK Ahmad Toyib mengungkapkan bahwa sejumlah personel darat maupun udara diterjunkan untuk menanggulangi kebakaran.
"Seluruh personel, baik satgas udara, satgas darat, maupun tim pendukung operasi, kami kerahkan secara optimal sesuai tugas dan fungsinya. Fokus kami memastikan setiap titik api dapat segera terdeteksi dan ditangani secepat mungkin agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih meluas," tuturnya.
Sebanyak 10.700 personel gabungan yang terdiri atas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni, Dinas Kehutanan, TNI, Polri, hingga relawan dikerahkan. Dalam mitigasi karhutla, jalur darat menjadi ujung tombak untuk menjangkau titik-titik kebakaran karena mampu menyemprotkan air secara langsung ke kepala api.
Petugas berupaya memadamkan kebakaran lahan gambut di Kelurahan Petuk Katimpun, Palangka Raya, Kalimantan Tengah
Petugas pemadaman berupaya memadamkan kebakaran lahan di Kelurahan, Panarung, Palangka Raya, Kalimantan Tengah
Untuk mendukung tim darat memadamkan api, dukungan dari jalur udara juga dilakukan dengan menerjunkan empat helikopter water bombing yang ditugaskan menjatuhkan air ke lokasi yang terbakar dan lahan yang sulit dijangkau petugas darat. Sementara itu, satu pesawat Cessna digunakan untuk operasi modifikasi cuaca dengan menaburkan natrium klorida (NaCl) untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan. Satu helikopter lainnya digunakan untuk melakukan patroli guna mendeteksi titik-titik kebakaran.
Kolaborasi berbagai pihak tersebut tentu menyita banyak waktu, tenaga, hingga biaya. Namun, segala daya dan upaya terus dilakukan demi padamnya api, hilangnya asap, serta kembalinya kehidupan masyarakat tanpa ancaman karhutla.
Pesawat helikopter water bombing melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Kelurahan Petuk Katimpun, Palangka Raya, Kalimantan Tengah
Petugas dari Dinas Kehutanan Kalteng berupaya memadamkan kebakaran di Kelurahan Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah
Petugas Dinas Kehutanan Kalteng memadamkan kebakaran lahan di Kelurahan, Panarung, Palangka Raya, Kalimantan Tengah
Relawan menggulung selang air saat pemadaman kebakaran lahan di Kelurahan, Panarung, Palangka Raya, Kalimantan Tengah
Petugas pemadam kebakaran mengenakan baju pelindung diri sebelum memadamkan kebakaran lahan di Kelurahan, Panarung, Palangka Raya, Kalimantan Tengah
Sejumlah relawan pemadam kebakaran melakukan upacara bendera di lokasi kebakaran hutan dan lahan gambut di Kelurahan Petuk Katimpun, Palangka Raya, Kalimantan Tengah
Foto dan teks : Auliya Rahman
Editor : Akbar Nugroho Gumay