Meniti jalan pemulihan dalam doa

Salma Talita

"Yaa Allah, Yaa Allah, Yaa Allahul A'zhamu Jalilul Akbar..."

Lantunan amalan Ismul Adzom atau puji-pujian nama agung Allah menggema di sebuah ruangan milik Yayasan Bina Tauhid Darul Miftahudin, Desa Hambaro, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Suara itu sesekali bertaut dengan riuh yang tak beraturan. Ada yang berbicara sendiri, meninggikan suara, hingga menunjukkan kondisi jiwa seseorang yang belum stabil.

Sejumlah pasien dengan gangguan jiwa berada di salah satu ruangan di pusat rehabilitasi Yayasan Bina Tauhid Darul Miftahudin.

Petugas bersiap memandikan pasien dengan gangguan jiwa di salah satu ruangan pusat rehabilitasi Yayasan Bina Tauhid Darul Miftahudin.

Begitulah bagian dalam keseharian tempat pembinaan bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), penyintas rehabilitasi NAPZA, dan orang terlantar.

Berdiri di lahan sekitar 1.200 meter persegi, lembaga kesejahteraan sosial (LKS) tersebut didirikan pada 2010 oleh Ropiuddin Sukarta Dirdja. Berawal dari sebuah pesantren salafiyah, yayasan tersebut berkembang menjadi tempat rehabilitasi bagi mereka yang mengalami gangguan jiwa.

Para penghuni yang datang ke tempat ini membawa cerita dan kondisi yang berbeda. Sebagian masih membutuhkan pengawasan karena dapat bertindak agresif, seperti merusak fasilitas hingga memukul penghuni lain. Dalam kondisi tertentu, mereka ditempatkan di ruang terpisah dan dibatasi geraknya.

Petugas memandikan pasien dengan gangguan jiwa.

Petugas menyajikan makan untuk pasien dengan gangguan jiwa.

Bagi sebagian penghuni, tempat ini menjadi persinggahan sebelum mereka kembali kepada keluarga. Namun, bagi sebagian lainnya, yayasan menjadi rumah ketika keluarga tak lagi datang menjemput.

Sebagian dari mereka tetap memilih tinggal dan membantu operasional dari yayasan dalam membantu kesembuhan pasien lainnya.

Sementara itu, dzikir, salat, membaca Al-Qur’an, dan menghafal ayat menjadi bagian dari rutinitas. Lantunan yang terus diulang menemani hari-hari para pasien.

Pasien dengan gangguan jiwa membaca Al Quran di pusat rehabilitasi milik Yayasan Bina Tauhid Darul Miftahudin.

Petugas membacakan puji-pujian nama agung Allah SWT sebagai bagian dalam terapi untuk pasien dengan gangguan jiwa.

Dalam keseharian mereka, pembinaan keagamaan terus dijalankan. Para ustaz mendampingi mereka dalam menjalankan ibadah, mulai dari salat hingga membaca Al Quran. Pembinaan dilakukan perlahan, menyesuaikan dengan kondisi setiap penghuni.

Ayat demi ayat dilantunkan. Sesekali, bacaan terhenti dalam diam. Tatapan mereka seolah larut mengikuti setiap ayat yang dibaca, meski belum semuanya mampu dilafalkan dengan lancar. Dzikir kembali dilantunkan, mengiringi butiran tasbih yang bergerak di antara jari. Ketika waktu salat tiba, mereka berkumpul mengikuti gerakan imam. Keheningan sesekali pecah oleh suara dari sudut ruangan.

Hari-hari terus berganti. Pemulihan berjalan perlahan, ditemani doa dan pendampingan. Di balik seluruh proses itu, tersimpan harapan bersama untuk mereka kembali menjalani kehidupan normal, entah bersama keluarga atau tetap di yayasan bersama rekan sejawat dalam perawatan.

Salah satu pasien dengan gangguan jiwa membawa tasbih saat berada di salah satu ruangan dalam pusat rehabilitasi milik Yayasan Bina Tauhid Darul Miftahudin.

Salah satu pengasuh memimpin doa usai shalat berjamaah bersama pasien dengan gangguan jiwa.

 

Salah seorang pengasuh menjadi imam dalam shalat berjamaah bersama pasien-pasien dengan gangguan jiwa.

Petugas memandu pasien dengan gangguan jiwa membaca Al Quran.

Sejumlah pasien dengan gangguan jiwa berada berpose di depan pusat rehabilitasi milik Yayasan Bina Tauhid Darul Miftahudin, Desa Hambaro, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Foto & teks: Salma Talita

Editor: Wahyu Putro A

Lisensi

Pilih lisensi yang sesuai kebutuhan
Rp 1.500.000
Reguler
Editorial dan Online, 1024 px, 1 domain
Rp 5.000.000
Pameran dan Penerbitan
Pameran foto, Penerbitan dan Penggunaan Pribadi