Siang itu kabut asap tebal menyelimuti kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Sudah sepekan lebih tidak turun hujan. Cuaca terik dan suhu panasnya memantul ke permukaan tanah kota batu bara tersebut.
Meskipun demikian, asap dan cuaca panas tidak menyurutkan semangat belasan mahasiswa Teknik Pertambangan Universitas Negeri Padang (UNP) untuk tetap belajar ke kedalaman bumi. Mereka datang ke lubang tambang batu bara Sawahluwung milik PT Bukit Asam (Persero) Tbk.
Seorang mahasiswa, Jamie memimpin rombongannya yang berjumlah sekitar 15 orang dengan membawa alat-alat ukur seperti meteran dan kompas geologi. Mereka dibagi tiga kelompok yaitu dua kelompok masuk ke dalam tambang, sedangkan satu kelompok melakukan pendataan di luar tambang.
Foto udara kawasan lubang tambang dalam Sawahluwung.
Petugas mengoperasikan mesin penarik lori saat pemeliharaan di lubang tambang dalam Sawahluwung
Pintu masuk bekas lubang tambang batu bara Sawahluwung itu berada pada ketinggian 214 meter di atas permukaaan laut. Namun saat masuk ke dalam, elevasinya turus menurun sampai 57 meter dengan jalur utama yang dikelola rutin sepanjang 1,5 kilometer.
Terowongan itu telah dialihfungsikan menjadi lubang pendidikan tambang bawah tanah (Underground Mining) pertama di Indonesia. Di bagian dalamnya dirawat secara modern untuk menyimulasikan ekosistem kerja tambang yang riil sekaligus aman. Stabilitas bukaan terowongan juga tetap dipertahankan secara berkelanjutan untuk kebutuhan edukasi dan riset geoteknik.
Tambang Ombilin adalah salah satu tambang batu bara tertua di kawasan Asia Tenggara yang beroperasi pada era kolonial antara tahun 1891–1892. Setelah dikelola oleh PT Bukit Asam lubang tambang dalam Sawahluwung baru dibuka pada 1985 ketika dimulainya mekanisasi dalam teknologi pertambangan dan mulai berhenti berproduksi pada tahun 2016.
Petugas berjalan mengiringi lori yang ditarik menggunakan mesin saat pemeliharaan di lubang tambang dalam Sawahluwung.
Mahasiswa berdiskusi saat pendataan di galeri dua, lubang tambang dalam Sawahluwung.
Meskipun tidak berproduksi lagi, PT Bukit Asam telah berkomitmen untuk mendukung penuh upaya pelestarian Warisan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto (WTBOS) sebagai situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2019 yang salah satunya dengan menjadikannya lubang pendidikan.
Berdasarkan data resmi UNESCO World Heritage Centre, total luas wilayah WTBOS mencakup luas area inti 268,18 hektare yang dilindungi oleh zona penyangga (buffer zone) seluas 7.356,92 hektare.
Ketika masuk ke dalam terowongan ini terdapat sisa infrastruktur penambangan batu bara historis pada lapisan Seam A (lapisan endapan bahan galian atau mineral) yang meliputi tiga galeri buntu, yaitu galeri satu, dua, dan tiga. Pada tiga galeri inilah para mahasiswa melakukan pendataan.
Petugas menyiapkan galeri 1 tempat praktik mahasiswa menggunakan alat-alat tambang di lubang tambang dalam Sawahluwung.
Mahasiswa melakukan pendataan di galeri dua, lubang tambang dalam Sawahluwung.
Di dinding pada galeri dua tampak terdapat batu bara berkilauan. Kualitas batu bara di Sawahlunto memang memiliki kalori tinggi sehingga termasuk bituminous coal (batu bara bitumen). Kualitas batu bara tersebut sangat baik karena karbon aktif yang tinggi sehingga bisa memenuhi syarat metalurgi dan pembangkit listrik.
Rombongan mahasiswa mendata di dalam tambang bawah tanah didampingi petugas dari Unit Pertambangan Ombilin (UPO) Sawahlunto, Syamsul Hamidi. Kegiatan pemeliharaan shift pertama hari itu baru saja selesai.
Area tersebut menjadi objek edukasi tambang karena memiliki daya tarik unik bagi siswa atau mahasiswa yang tertarik pada sejarah industri dan teknologi pertambangan pada masa itu, sekaligus memberikan wawasan tentang warisan budaya tambang.
Mahasiswa mengamati objek tambang di galeri dua, lubang tambang dalam Sawahluwung.
Petugas menunjukkan batu bara berkualitas tinggi di lubang tambang dalam Sawahluwung.
Supervisor yang bertanggungjawab atas lubang tambang dalam Asmiliardi mengatakan, selain penelitian, mahasiswa pertambangan juga rutin menggelar kuliah lapangan ke dalam tambang. Hal ini bertujuan untuk memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa, sehingga mampu mengintegrasikan teori yang diperoleh di ruang kuliah dengan praktik di lapangan.
Materi kegiatan mencakup berbagai topik penting seperti teknik pemboran dan penyanggaan tambang bawah tanah, survey pertambangan bawah tanah dan tambang terbuka, ventilasi tambang, face mapping dan analisis geoteknik, blasting, hidrogeologi dan penyaliran tambang, hingga produktivitas alat berat.
Kebutuhan negara terhadap mahasiswa dan lulusan Teknik Pertambangan di Indonesia saat ini berada pada tingkat yang sangat krusial dan tinggi, terutama dipicu oleh agenda besar hilirisasi industri dan transisi energi.
Petugas mengecek kondisi galeri 1 di lubang tambang dalam Sawahluwung.
Mahasiswa menggunakan kompas geologi saat melakukan pendataan di galeri dua, lubang tambang dalam Sawahluwung.
Mahasiswa mencatat data di galeri dua, lubang tambang dalam Sawahluwung.
Petugas membersihkan material tambang dalam Sawahluwung.
Foto dan Teks : Fitra Yogi
Editor : Nyoman Budhiana